Puisi dan Bulu Kuduk

“SEBUAH sajak yang menjadi adalah suatu dunia,” kata Chairil Anwar. Kalimat yang dilontarkan Chairil pada salah satu pidatonya ini kerap dipandang sebagai visi Chairil Anwar dalam menulis puisi.

Dari sekian banyak penyair di Indonesia, tidak jarang kita menemukan penyair yang menyampaikan visi kepenyairannya lewat media lain selain puisi. Chairil Anwar kerap berbicara tentang puisi dalam pidato-pidatonya. Kumpulan naskah pidatonya sampai saat ini terhimpun dalam buku “Derai-Derai Cemara”.

Acep Zamzam Noor, sebagai penyair yang berjarak beberapa generasi setelah Chairil Anwar pun meneruskan kebiasaan yang sama. Dalam buku kumpulan esainya, “Puisi dan Bulu Kuduk” Acep menulis beragam ulasan tentang puisi.

Pada mulanya, Acep mengaku pernah bertekad tak ingin menulis apapun selain puisi. Tekadnya ini kemudian luruh ketika sebagian sahabatnya meminta Acep menulis komentar terhadap karya-karya mereka.

Permintaan untuk menulis esai justru kian subur. Bahkan salah seorang kawannya yang menjadi redaktur harian Pikiran Rakyat memintanya untuk menulis esai lebih banyak. Sang kawan beralasan, bahwa honor menulis esai ini bisa dijadikan sebagai penyambung hidup. Maklum, sejak memutuskan menjadi seorang penyair, Acep tidak pernah memiliki pekerjaan tetap.

Salah satu bahasan menarik yang terdapat dalam buku ini adalah esai “Puisi dan Bulu Kuduk”. Dalam esai tersebut, Acep mengisahkan kebingungannya saat ditanya apa yang kriteria puisi yang baik. Dalam hal ini, Acep menulis, “Jika saya membaca sebuah puisi dan saya merasa tergetar hingga bulu kuduk saya merinding, apalagi jika tubuh saya sampai menggigil, maka puisi yang saya baca itu pastilah puisi yang baik.”

Pendapatnya ini memang terkesan amat subyektif. Tapi jika kita menelusuri esai-esai lainnya, kita akan sadar bahwa teori “bulu kuduk” milik Acep ini bukan sekadar hasil asal omong.  Esai “Puisi”, yang menjadi esai pembuka dalam buku ini, misalnya, merupakan esai amat padat yang menjelaskan pandangan Acep tentang puisi.

Dalam esai ini, Acep menulis, “Nilai puisi tidak semata terletak pada apa yang diungkapkan, tapi lebih pada bagaimana cara mengungkapkan.” Acep ingin menegaskan bahwa dalam puisi, “bentuk lebih menonjol ketimbang isi.”

Masih dalam esai yang sama, Acep menjelaskan pandangannya perihal jenis-jenis puisi, struktur puisi, dan, secara selintas, sejarah perpuisian Indonesia. Penjelasannya ini amat mudah dicerna oleh saya yang masih awam mengenal dunia puisi.

Acep tampaknya memandang pilihan menjadi penyair sebagai sesuatu yang serius, bahkan cenderung sakral. Acep mengamini kata-kata Saini KM bahwa perkara menulis puisi “harus karena dorongan murni dari dirinya, bukan karena pengaruh dari luar seperti ingin terkenal, ingin berpengaruh, atau ingin sekadar disebut ‘penyair’.” (hal 32).

Buku ini teramat pas bagi siapa pun yang hendak menyelami dunia puisi. Di dalam buku ini, kita akan membaca ulasan-ulasan Acep tentang karya-karya penyair lain yang amat berguna mengasah kemampuan mengapresiasi puisi. Terdapat pula esai-esai yang bersifat amat personal, yang mengisahkan proses kreatif, sampai aktifitas budaya dan politik yang dilakoni Acep dalam kurun 1980-2000an.

Pada Mulanya Adalah Hobi

Menemukan hobi adalah hal yang sangat penting. Dan menemukan orang-orang yang sehobi merupakan hal yang lebih penting.

Tahun 2016 lalu saya menggagas sebuah komunitas literasi kecil yang saya beri nama Biblio Forum. Alasan yang melatarinya sebenarnya amat pribadi: mencari teman yang memiliki hobi membaca dan menulis. Sebelum itu, membaca dan menulis cuma kegiatan yang saya lakukan untuk mengisi waktu luang yang sedang berlimpah. Kini saya ingin menekuninya dengan lebih serius.

Pada awal pembentukannya, saya mengajak beberapa teman yang bertahun-tahun lalu pernah saya ajak membuat komunitas serupa. Pada waktu itu komunitas kami tidak hidup lama. Mungkin karena saat itu kami menggagasnya dengan terburu-buru.

Seiring waktu, anggota-anggota baru pun bermunculan dan sebagian diantaranya langsung menjadi motor keberlangsungan komunitas hingga kini. Setiap anggota datang dari berbagai latar belakang. Bahkan bisa dikatakan kami memiliki perbedaan perihal genre buku kesukaan. Tapi kesamaan hobi pada membaca dan menulislah yang membuat kami tetap bersama. Mungkin kita sependapat bahwa bertemu dengan orang yang satu hobi merupakan sesuatu yang menggembirakan. Barangkali bisa dibandingkan dengan kegembiraan seorang pelajar Indonesia yang bertemu rekan sebangsa di negeri asing.

Sejauh ini, berbagai kegiatan telah kami selenggarakan. Bedah buku, diskusi sastra, hingga pelatihan menulis resensi. Mungkin muncul kesan bahwa kegiatan kami masih mencla-mencle. Tapi kami terus mematangkan diri untuk mencari bentuk yang paling pas bagi komunitas ini.

Pada Maret hingga Juni 2017 lalu, kami secara konsisten menggelar kegiatan “Biblio Corner” yang mengusung bahasan perihal buku dan tokoh sastra yang berlangsung dua pekan sekali. Berkat kegiatan yang intens pada kurun waktu ini, kamu kerap kedatangan anggota baru setiap bulan.

Harus kami akui bahwa masih banyak keterbatasan dari komunitas ini. Maka dari itulah, selepas libur lebaran yang sebentar lagi berakhir, kami mencanangkan serangkaian program baru. Salah satunya adalah gerakan menulis yang muaranya pada pendampingan menulis. Setiap anggota akan diminta membuat sebuah tulisan hingga tulisan tersebut dianggap layak dikirimkan ke media cetak dan daring.